NEWS UJUNG BULU– Desa Lembanna di Kabupaten Gowa kembali menjadi sorotan internasional. Sejumlah dosen dan mahasiswa dari Singapore Polytechnic berkunjung langsung ke desa yang berada di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut untuk mempelajari proses produksi teh cascara — minuman herbal yang dihasilkan dari kulit buah kopi.
Produk ini bukan sekadar minuman khas, tetapi juga simbol pemberdayaan masyarakat berkelanjutan hasil binaan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi.
Dari Kulit Kopi Jadi Komoditas Bernilai Tinggi
Selama kunjungan, para peserta dari Singapore Polytechnic melihat langsung bagaimana masyarakat Lembanna mengubah kulit kopi yang dulunya dianggap limbah menjadi teh herbal bernilai ekonomi tinggi. Prosesnya melibatkan teknik pengeringan alami, fermentasi sederhana, dan pengemasan modern yang mempertahankan cita rasa serta kualitas alami cascara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kolaborasi lintas negara yang bertujuan mempertemukan potensi lokal dengan wawasan global. Mahasiswa asing tersebut tidak hanya belajar teknik produksi, tetapi juga memahami konsep ekonomi sirkular dan pemberdayaan komunitas yang menjadi dasar program sosial YBM PLN UIP Sulawesi.
Pendampingan Berkelanjutan dari YBM PLN UIP Sulawesi
Ketua YBM PLN UIP Sulawesi, M. Pahri Jafar, menjelaskan bahwa pendampingan terhadap Desa Lembanna sudah berjalan hampir tiga tahun. Program ini melibatkan pelatihan kewirausahaan, penguatan kapasitas kelompok masyarakat, hingga peningkatan kualitas produk olahan lokal.
“Kunjungan dari Singapore Polytechnic membuktikan bahwa potensi lokal Desa Lembanna mendapat apresiasi internasional. Produk yang dikembangkan secara berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi inspirasi global,” ujar Pahri.
Ia menambahkan, program yang dijalankan YBM PLN UIP Sulawesi bukan sekadar memberikan bantuan materiil, tetapi menekankan pembinaan berkelanjutan dan kemandirian ekonomi.
“Kami ingin masyarakat siap mengelola usahanya secara mandiri setelah pendampingan berakhir pada November 2025. Prinsipnya, mereka tidak hanya diberi ikan, tapi juga diajarkan cara memancing,” tambahnya.

Baca Juga: Ombudsman RI Sulsel Tinjau Lapas Bulukumba Awasi Potensi Maladministrasi
Cahaya Lembanna, Simbol Kemandirian dari Desa
Pendampingan YBM PLN UIP Sulawesi dilakukan melalui kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cahaya Lembanna. LSM ini menaungi sekitar 30 anggota dari beragam latar belakang, mulai dari buruh tani, ibu rumah tangga, hingga lansia.
Ketua LSM Cahaya Lembanna, Khaedir Baharuddin, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan.
“Berkat YBM PLN, kami tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang. Dari hasil tani biasa, kini kami menghasilkan teh cascara, kopi lokal, madu, dan berbagai produk olahan khas Lembanna yang semakin dikenal luas,” ujarnya dengan bangga.
Menurut Khaedir, kunjungan akademisi internasional ini menjadi motivasi besar bagi warga desa untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas produknya.
Inspirasi Global dari Desa di Lereng Bawakaraeng
Desa Lembanna kini bukan lagi sekadar desa pertanian di pegunungan Gowa. Melalui dukungan YBM PLN UIP Sulawesi, desa ini bertransformasi menjadi pusat pembelajaran pemberdayaan berbasis potensi lokal.
Kunjungan dari Singapore Polytechnic menjadi bukti bahwa program sosial yang berakar di desa dapat menarik perhatian dunia internasional. Kolaborasi ini membuka peluang bagi produk-produk lokal untuk menembus pasar global sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keberlanjutan dan gotong royong khas Indonesia.